OEDIPUS; DAN PERSOALAN INCES DI SEPANJANG ZAMAN
(Catatan dari tiga malam pertunjukan teater KSST Noktah)
Oleh: Wahyuni Mulia Helmi
Kelompok Studi Sastra dan Teater (KSST) Noktah telah melakukan pagelaran teater selama tiga hari berturut-turut, yaitu pada tanggal 28, 29 dan 30 Mai yang lalu, bertempat di gedung Teater Tertutup Taman Budaya Padang. Oedipus, drama yang dipilih untuk dipentaskan kali ini didukung oleh delapan orang pemain yang berasal dari berbagai latar kegiatan.
Drama Oedipus yang dipentaskan ini merupakan karya André Gide peraih Nobel pada tahun 1947. Drama Oedipus ini ditulis Gide pada tahun 1931 yang merupakan penulisan kembali sebuah mitos tua karya Sophocles.
Drama Oedipus yang merupakan drama tragedi sekilas tampak seperti drama detektif. Oedipus yang merupakan putra mahkota negeri Corintha diramalkan oleh Dewa Apollo akan membunuh ayahnya sendiri. Pada mulanya sangat sedih sekali karena ia sangat menyanyangi ayahnya, akan tetapi kemudian diketahui bahwa ia bukanlah putra kandung Raja Polybus dan Ratu Meropes. Hal ini membuat ia memilih pergi meninggalkan istana dan pergi mencari asal-usulnya karena ia merasa bukanlah haknya menjadi raja di Corintha.
Kuil tempat bersemayamnya dewa telah menjadi tujuan perjalanannya. Dalam perjalanannya menuju dewa tersebut terjadilah perkelahian dengan seorang yang tidak dikenal yang kemudian diketahui bahwa orang tersebut adalah Raja Laius penguasa Thebes yang merupakan ayah kandungnya. Dalam perkelahian itu Raja Laius terbunuh, maka telah berbukti ramalan tersebut tanpa diketahuinya, bahwa ia akan membunuh ayahnya sendiri. Karena Oedipus merasa dirinya kotor sebab telah membunuh orang, ia tidak jadi menuju dewa melainkan memasuki kota Thebes dan membebaskan rakyat dari gangguan sphinx yang merupakan makhluk berbadan singa dan berkepala wanita.
Adalah Ratu Jokasta yang merupakan janda Raja Laius yang mengetahui ramalan Dewa Apollo, bahwa akan datang padanya seorang laki-laki yang akan membunuh suaminya, mengawininya dan menjadi raja. Oedipus, yang merupakan putra kandungnya (inces) yang sengaja dibuang karena ramalan itu ternyata diselamatkan gembala dan sudah ada dihadapannya sekarang. Oedipus, dengan ketidaktahuannya ia menikahi ibu kandungnya (inces), yang merupakan takdir yang telah ditetapkan untuknya.
Dua puluh tahun ia berkuasa terjadilah malapetaka yang besar pada rakyat. Pendeta menunjukkan jalan keluar dari petaka itu, yaitu pembunuh Raja Laius harus dihukum. Rakyat menuntut untuk dilakukan pengusutan dan Oedipus menyanggupi permintaan rakyat. Ratu Jokasta adalah orang yang mengetahui persis siapa pembunuh suaminya, akan tetapi ia berusaha agar rahasia itu tetap menjadi rahasia. Dan setelah diketahui bahwa Oedipuslah yang telah membunuh raja, semua orang menudingnya dengan kesalahan. Oedipus, raja yang bangga pada keberhasilan dirinya dalam mencapai kebahagiaan hidup tanpa bantuan orang lain pada akhirnya harus menemui nasib yang tragis. Oedipus, lebih tepat disebut sebagai raja yang malang. Dengan diketahuinya siapa ia sebenarnya, ia memilih menghukum diri dengan menusuk kedua matanya dengan peniti emas karena ia berpendapat bahwa kedua matanyalah yang tidak mampu memberikan peringatan padanya. Ia pergi meninggalkan istana dan hidup mengasingkan diri dengan ditemani oleh dua putri sekaligus adik-adiknya yaitu Antigone dan Ismene.
Ketika peniti emas menusuk kedua mata Oedipus sesungguhnya yang terdengar bukan saja jeritan kesakitan, tetapi sebuah penderitaan, sebuah protes keras dan juga jiwa besar. Adalah persoalan kegagalan dalam melawan takdir yang telah ditetapkan atas dirinya. Sesungguhnya ia sebagai seorang Raja yang memimpin pengusutan terhadap kematian Raja Laius bisa saja menghentikan pengusutan ketika keadaan mulai memojokkan dirinya, tapi ia tak hendak berhenti sampai semuanya tuntas, sampai terbuka kedok yang selama ini disambunyikan oleh Jokasta. Setelah diketahui bahwa ialah sipembunuh raja, dengan jiwa besar iapun menjalani hukuman yang telah ia tetapkan sendiri. Seperti juga yang pernah diungkapkan Goenawan Mohammad bahwa disini kita saksikan sebuah heroisme. Oedipus berdosa, tapi tidak bersalah, ia hanya kalah oleh Dike, rancangan takdir. Pemimpin seperti Oedipus adalah pemimpin dambaan Indonesia hari ini, tetapi akankah itu ditemui, bisakah juga kita bertanya pada Dewa Apollo? Belajar dari pementasan drama Oedipus adalah belajar untuk berjiwa besar dan menjadi pemimpin yang besar.
Tiga malam pertunjukan drama Oedipus adalah pertunjukan yang cukup berat bagi seluruh aktornya. Hal ini bukan disebabkan naskah tragis yang gersang melainkan karena faktor kesehatan. Diketahui semua aktor bermain dalam keadaan sakit. Akan tetapi pertunjukan dapat diselesaikan dengan baik. Terdapat perbedaan yang cukup nyata antara pementasan pada malam pertama dengan malam kedua dan ketiga. Di samping terjadi pergantian kostum total pada salah satu aktor, permainan pada malam kedua dan ketiga terlihat lebih enjoy, lebih tenang dan lebih penuh penghayatan.
Pertunjukan yang ditampilkan oleh sutradara adalah Oedipus dengan konsep kekinian, bagaimana seorang Oedipus dalam dunia modern. Hal ini dilihatkan dengan pilihan kostum para aktor, cara yang ditempuh oleh para pangeran dalam menyatakan pikiran yang diwakili oleh musik pilihannya, karakter salah seorang putri Oedipus-Ismene-yang cendrung tak acuh. Akan tetapi dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam penggantian properti yang ditampilkan sebagai simbol kekuasaan, tidak lagi sebuah singgasana.
Berbeda dengan Oedipus yang dibuat oleh Sophocles yang hidup pada abad kelima sebelum masehi disebutkan bahwa Jokasta memang bunuh diri, tetapi Oedipus tetap memerintah di Thebes sampai akhir hayatnya. Drama Oedipus juga pernah dipentaskan oleh Rendra yang sekaligus adalah penerjemah Oedipus karya Sophocles. Konsep Rendra dalam pementasan ini adalah Teater Topeng dengan memakai jenis kostum yang terlihat seperti wool dari jauh. ***
Purus Kebun, Padang, 2004.
*) Penulis adalah pekerja teater dan pemain teater KSST Noktah.